Senin, 16 Juli 2012

PENDAHULUAN


Pertunjukan wayang sampai kini telah berumur lebih dari 3000 tahun, karena timbulnya wayang pada sekitar 1500 sM,  demikian menurut Ir. Sri Mulyono. Bentuk wayang pada permulaannya tentunya tidak seperti bentuk wayang yang sekarang ini, maksud saya seperti bentuk wayang yang disajikan sebagai ilustrasi dalam buku ini. Sudah pasti dimulai dengan yang sangat sederhana dalam bahan maupun bentuknya, kemudian mengalami perubahan secara relatif pelan menjadi bentuk wayang yang disajikan dalam buku ini.

Dalam buku ini tidak dibahas tentang sejarah terjadinya dan perkembangan wayang dari awal mula hingga yang ada sekarang. Demikian juga tentunya ada wayang-wayang yang dibuat setelah bentuk wayang yang disajikan di sini. Oleh karena itu bila para pembaca ada yang berpendapat bahwa wayang-wayang yang disajikan sebagai ilustrasi buku ini tergolong wayang-wayang lama, tentunya pendapat yang demikian juga tidak salah. Walaupun sebenarnya wayang-wayang zaman Kartasura, Mataram, Pajang, dst, dibuat sebelum wayang-wayang ini. Karena sebagai contoh, dari segi bentuk muncullah "Wayang Ukur" yang diciptakan oleh Sigit Sukasman pada tahun 1974 di Yogyakarta, saya pernah melihat dan mengamati di Museum Wayang SENAWANGI Jakarta Kota. Adanya wayang Madya, wayang Wahyu, wayang Sadat, wayang Suluh, wayang Kancil, wayang Pancasila, dan mungkin masih ada yang lain lagi, semua ini dibuat pada masa setelah wayang purwa gaya Surakarta ini ada. Demikian juga saya pernah melihat dan mengamati wayang kulit gaya Surakarta, tetapi ornamen dalamnya telah ditatah dan disungging secara lebih lembut/halus tidak seperti ornamen wayang-wayang yang disajikan sebagai ilustrasi buku ini. Wayang yang demikian itu pernah saya lihat dan amati pada wayang koleksi Prof. DR. Soedjarwo mantan menteri kehutanan. Wayang tersebut sering dipergunakan pada pergelaran yang sering diadakan di Jakarta. Berdasarkan bahan yang dipergunakan,  wayang ini adalah wayang kulit, karena dibuat dari kulit kerbau yang dikeringkan, dikupas/dikerok bulunya, dipotong-potong, ditatah/dipahat dan disungging/diwarnai. Karena selain kulit kerbau ada wayang yang dibuat dari bahan kayu, misalnya: wayang krucil, wayang gedog, wayang purwa kayu, wayang golek cupak, wayang golek pasundan dan sebagainya. Wayang yang dibuat dari kain disebut wayang beber. Di samping ada wayang yang dibuat dari daun tal, yang merupakan permulaan wayang dibuat orang, demikian menurut R.M.Sayid. Menurut kisah yang dikelirkan, wayang-wayang dalam buku ini adalah wayang purwa, yaitu wayang yang dipergunakan untuk memperkelirkan cerita-cerita dalam  Serat Pustakaraja Purwa, Ramayana  dan Mahabarata. Karena selain wayang Purwa ada juga wayang Gedog dan wayang Madya. Wayang Gedog dipergunakan untuk memperkelirkan cerita Panji. Sedangkan Wayang Madya dipergunakan untuk  memperkelirkan cerita setelah wayang purwa, cerita setelah selesai perang Baratayuda, dari Prabu Parikesit hingga Prabu Jayabaya di Penjalu/Jenggala. Sehingga cerita dalam wayang madya merupakan sambungan dari wayang purwa, cerita dalam wayang gedog merupakan sambungan dari wayang madya. Di samping adanya wayang Menak, wayang Sadat, wayang Pancasila, wayang Potehi, wayang Suluh, wayang Wahyu, wayang Kancil dan sebagainya yang memang tidak ada hubungan cerita dengan wayang Purwa ini. Gaya atau gagragnya adalah Surakarta, karena ada wayang kulit purwa gaya Yogyakarta, Banyumasan, Pesisiran, Cirebonan, Betawi, Jawa Timuran, Bali, Sasak, Palembang, Banjar dan sebagainya. Oleh karena itu, isi buku ini masih membatasi diri hanya dalam lingkup  Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta.

Pertunjukan wayang sampai saat sekarang masih tetap mendarah daging, tetap digemari dan dihayati serta dijunjung  tinggi oleh masyarakat, karena pertunjukan wayang itu berisi hal-hal yang masih diperlukan dalam kehidupan manusia. Baik dalam lapangan keduniaan (lahiriah) maupun dalam lapangan mental (bathiniah). Demikian menurut Ir. Sri Mulyono. Walaupun pendapat ini sebenarnya kontroversial, namun rasanya saya cenderung terpengaruh oleh pendapat Ir. Sri Mulyono tersebut di atas. Kalaupun dewasa ini ternyata sudah jarang ada pergelaran wayang kulit, kalaupun ada penonton atau penggemarnya sudah jarang. Hal ini sebenarnya tidak disebabkan oleh karena wayang sudah tidak digemari masyarakat lagi, tetapi hal ini disebabkan adanya perubahan, perkembangan pengetahuan dan kualitas masyarakat itu sendiri, sehingga pementasan pergelaran wayang kulit pun dituntut harus disesuaikan dengan keadaan masyarakat tadi. Penonton atau penggemar wayang pada zaman Majapahit tentunya pandangan hidupnya, keadaannya, kualitasnya berbeda dengan penonton atau penggemar wayang  pada zaman Sultan Agung di Mataram. Apalagi jika dibandingkan dengan penonton atau penggemar wayang pada zaman globalisasi informasi sekarang ini. Karena menurut pengamatan saya, pergelaran wayang yang disesuaikan sarana dan tehnik pergelarannya yang meliputi sistem cahaya dan suara, jumlah wayang yang lengkap dengan kelir dan gawangan yang cukup artistik, simpingan wayang yang cukup panjang, gamelan lengkap pelog sledro ditambah bedug tambur terompet dan mungkin instrumen musik lainnya, para nayaga dan pesiden yang terampil menguasai segala gending dan mungkin lagu-lagu populer, pergelaran dibawakan oleh Dalang yang kaya akan sanggit dan kreatifitas, aspiratif dan komunikatif dengan penonton, terampil dalam sabetan (menggerakkan wayang), ternyata masih membanjir juga penonton atau penggemarnya. Baik pergelaran itu diadakan di desa-desa maupun di kota-kota, bahkan di ibu kota Jakarta sekalipun. Menurut pengakuan Ki H.Anom Suroto Lebdo Carito dalam kaset rekamannya, di luar Jawa pun banyak yang menonton sampai pergelaran selesai, walaupun mereka mungkin tidak mengerti bahasa Jawa.
            Karena dalam pertumbuhannya, fungsi wayang juga telah mengalami perubahan. Sejak dari fungsi sebagai alat suatu upacara yang ada hubungannya dengan kepercayaan (magis religius) hingga menjadi alat pendidikan yang bersifat didaktis dan sebagai alat penerangan lalu menjadi bentuk kesenian daerah dan kemudian menjadi obyek ilmiah, demikian menurut Ir. Sri Mulyono. Walaupun dalam pekan wayang Indonesia ke VI tahun 1993 di Jakarta ada juga pakar yang berpendapat bahwa wayang hanya berhenti sebagai tontonan saja. Namun demikian saya tetap berkeinginan untuk menunjukkan bentuk-bentuk tokoh wayang yang saya miliki, yang mungkin paling tidak dapat mengisi sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat pewayangan.

Walaupun banyak buku tentang wayang yang mengungkapkan  filsafatnya, ceritanya, sejarahnya, seni pedalangannya maupun seni kriyanya, namun masih sedikit yang menyajikan foto wayang dengan corekan/sket/pola yang dibuat oleh penulisnya sendiri, khususnya wayang kulit purwa gaya Surakarta ini. Di samping saya merasa terpengaruh oleh optimisme Ir. Sri Mulyono bahwa wayang akan menjadi milik jagad hingga orang semesta buana akan mempelajari dan mendalami wayang. Dengan terselenggarakannya festival gamelan Internasional pada tanggal 29 Desember 1995 di taman wisata candi Prambanan Yogyakarta, kiranya tidak mustahil fenomena yang sama terjadi pada wayang. Ternyata pada tahun 2003 badan dunia PBB melalui UNESCO telah memberikan penghargaan kepada Wayang Indonesia sebagai a Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of humanity atau Warisan Budaya Dunia yang luar biasa.

Dari inspirasi inilah timbul keberanian saya dengan segala keterbatasan saya menyajikan buku ini yang merupakan kumpulan dari apa yang pernah saya gemari, amati dan pelajari dari sumber-sumber terkait sedari saya masih anak-anak, walaupun penelitian dan pengamatan langsung pada wayang-wayang pusaka keraton Mangkunegaran belum pernah saya lakukan. Oleh karena itu saya sadar bahwa pengetahuan di bidang wayang kulit gaya Surakarta ini masih belum memadai dibandingkan dengan luasnya pengetahuan wayang kulit yang sebenarnya, khususnya wayang kulit purwa gaya Surakarta ini. Untuk itu apa yang disajikan di sini, hanyalah merupakan kesan pribadi saya.

Wayang satu kotak sebenarnya cukup sebanyak lebih kurang 200 saja, tetapi karena adanya wanda wayang yang lebih dari satu, semua tokoh dibuat sehingga boleh dikatakan tanpa ada tokoh wayang yang dipinjamkan atau digantikan tokoh wayang lain, maka jumlah tersebut dapat lipat dua kali atau lebih. Apalagi bila tokoh wayang Korawa seratus benar-benar dibuat, hal tersebut pernah dinyatakan oleh Ki Manteb Sudharsono dalam pergelaran di museum Purnabakti TMII. Menurut R.M.Sayit, jumlah wayang  Sebet ciptaan Mangkunegara IV, 418 buah. Walaupun dalam suatu pergelaran yang disediakan seperangkat wayang yang lengkap, baik tokoh-tokoh wayangnya maupun wandanya, namun masih jarang seorang Dalang mengeluarkan wayang dengan tokoh yang sebenarnya, apalagi wanda wayang yang memang cocok dan sesuai dengan kondisi atau suasana jalannya cerita. Yang saya maksudkan di sini adalah seumpamanya tokoh wayang Batara Bayu ada janganlah digantikan dengan Tuguwasesa. Seumpamanya tokoh wayang Prabu Parikesit, Sasikirana, Suryakaca, Jayasumpena, Janurwenda, Sangasanga, Dwara, Arjunapati, Suwarka, disediakan, janganlah digantikan dengan tokoh wayang baku semacam Prabu Rama Wijaya, Gatotkaca, Antareja, Antasena, Setyaki, Gunawan Wibisana, Bomanarakasura dan sebagainya. Janganlah menggunakan wayang baku untuk menggantikan tokoh-tokoh lain. Jangan menggunakan Denawa Patih untuk tokoh Rukmuka dan Rukmakala dalam lakon ”Dewa Ruci” atau Ditya Wilkataksini dalam lakon ”Anoman Duta”. Penggantian yang demikian dapat menimbulkan kekecewaan pada penonton wayang yang benar-benar memahami wayang, di samping menimbulkan kekeliruan pemahaman bagi penonton wayang yang benar-benar atau kurang memahami wayang. Karena kekhawatiran inilah mungkin dapat meningkatkan motivasi kepada diri saya untuk membuat wayang secara lengkap. Namun keterbatasan dana, waktu, kesempatan dan besarnya/prosentase tanggung jawab saya terhadap dunia pewayangan sangat menentukan hasil karya saya. Semestinya keinginan yang demikian akan lebih berhasil apabila dilakukan oleh para Dalang yang dekat di hati pencinta wayang dan pembuat wayang yang memiliki cukup dana, serta pemerintah yang tidak kalah pentingnya dalam peran memberikan dorongan dan pembinaan maupun pemberian subsidi kepada para penatah dan penyungging wayang di seluruh Indonesia. Begitu juga dalam suasana sedih, gembira, ragu, kaget, marah, tua, muda, dan lainnya, tentunya tokoh wayang yang dikeluarkan seharusnya berbeda walaupun namanya satu. Inilah sebenarnya kegunaan dari pada dibuatnya bermacam-macam wanda. Namun karena para Dalang mungkin cenderung mementingkan  kriteria  "cepengan" (bahasa Jawa),  artinya  enak dipegang/digerakkan dan mungkin wayang-wayang tersebut milik pribadi Dalang. Maka perihal pengeluaran tokoh wayang yang benar dalam arti nama maupun wanda masih banyak diabaikan oleh para Dalang. 

Dalam seperangkat satu kotak wayang, menurut letak di pakeliran dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu "wayang simpingan" dan "wayang dudahan". Wayang simpingan disebut juga wayang sumpingan atau wayang panggungan, artinya wayang yang pada waktu pakeliran diletakkan berjejer pada geber (kelir) ditancap tegak pada batang pisang di sebelah kiri dan kanan Ki Dalang. Sedangkan wayang dudahan adalah wayang yang pada waktu pakeliran diletakkan tetap di dalam kotak di sebelah kiri dan eblek di sebelah kanan Ki Dalang.

Wayang simpingan dibagi menjadi dua yaitu "simpingan kiri" dan  "simpingan kanan". Wayang-wayang simpingan sebelah kiri banyak didominasi wayang-wayang yang bermuka disungging warna merah. Berbeda dengan wayang-wayang simpingan kanan yang banyak didominasi muka warna hitam. Pada simpingan kiri banyak wayang yang bermulut prengesan atau gusen, gusen bertaring, wayang yang bermulut  ngablak/terbuka/menganga nampak gigi-gigi dan taringnya. Sedangkan di simpingan kanan tidak terdapat bentuk mulut yang demikian, sebagian besar "keketan". Demikian juga wayang simpingan kiri banyak bermata jenis "plelengan", "kedelen", walaupun ada juga yang bermata "liyepan"/"gabahan"/"jahitan", sama dengan simpingan kanan. Lebih khusus lagi di simpingan kanan banyak wayang bermata "telengan", artinya bentuk mata bulat seperti "plelengan", tetapi tidak nampak kelopak matanya. Jenis kelamin laki-laki semua, kecuali Batari Durga, sedangkan beberapa wayang putren (wanita) hanya disimping di sebelah kanan. Wayang simpingan kiri banyak yang berhidung bentuk "nyantik palwa"/"haluan perahu", "mungkal gerang" atau "dempak", sedangkan di simpingan kanan banyak yang berhidung mancung. Dari sudut karakteristik wayang-wayang yang disimping di sebelah kiri banyak menunjukkan watak angkara murka, beringas, mudah marah, kurang tahu akan nilai-nilai kebaikan, tidak segan melanggar nilai-nilai kebaikan, kurang bertanggung jawab, suka berbalas dendam dan sebagainya. Berbeda dengan wayang-wayang yang disimping di sebelah kanan banyak menunjukkan tokoh berwatak berbudi luhur, bijaksana, sabar, bertanggung jawab, sentosa mawas diri, tenang dan sebagainya. Oleh karena beberapa perbedaan tersebut di ataslah, maka tidak aneh bila ada beberapa pakar yang menyatakan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam pewayangan yang sudah mapan adalah sangat harmoni, sangat hitam putih, sangat mengkutub. Oleh karena pengelolaan konflik berdasarkan harmoni hanya memadai dalam kondisi sosial yang ditandai oleh keadilan dan stabilitas. Tetapi tatanan stabil tradisional yang adil itu tidak ada lagi. Karena itu identifikasi pewayangan dengan kedok harmoni perlu dibuka. Keberanian, kemandirian dan tanggung jawab pribadi yang berorientasi pada kejujuran dan keadilan adalah sikap yang dituntut sekarang. Sehingga dengan demikian apakah nilai-nilai harmoni pewayangan perlu ditinggalkan dan tidak perlu dilestarikan lagi. Namun perlu juga ditunjukkan di sini, bahwa masih banyak pula para pakar yang menyatakan dalam kebenaran hakiki selalu terkandung sisi baik di balik sisi jahat para tokoh. Tidak ada salahnya belajar melihat sisi baik di balik sisi jahat. Saya sendiri memiliki keyakinan bahwa timbulnya yang abu-abu itu berkat adanya yang hitam dan putih tentunya. Memang dalam etika wayang yang sudah mapan, tentunya masih kita jumpai: "sapa sing tumemen bakal ketemu", "ngunduh wohing pakarti", "sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti", "tan hana dharma mangrawa" dan sebagainya. Walaupun dalam kehidupan nyata, kadang-kadang masih dijumpai nilai-nilai pewayangan dimanfaatkan sebagai alat untuk mempertahankan dan memperkokoh status quo, sekedar untuk alat orasi dan retorika, sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya kejahatan yang berslogan kebaikan, kedurhakaan berselubung kesalehan, kezaliman berkedok kebijakan, kecurangan berdalih kejujuran, penindasan bertopeng belas kasihan, namun kebenaran hakiki tetap ada. Cepat atau lambat kejahatan tetap kejahatan, kebaikan tetap kebaikan. Kecurangan dapat disulap menjadi kejujuran sementara, namun tidak akan dapat disulap menjadi kejujuran selama-lamanya. Dalam kehidupan nyata, khususnya dalam tatanan masyarakat yang belum adil dan setengah modern atau mungkin modern, demi memperoleh suatu keuntungan tertentu, seseorang dapat menyamar atau mengidentitaskan dirinya sebagai Pandawa yang berbudi luhur, mawas diri, bijaksana, selalu ingin memelihara ketenteraman dunia, tidak mengumbar segala hawa nafsu, membela dan melindungi kaum lemah dan sebagainya. Oleh karena itu bukan berarti nilai-nilai pewayangan yang harus dibuka dan dibongkar. Tetapi yang lebih penting lagi adalah  bagaimana identitas Pandawa tersebut jangan sampai digunakan oleh Korawa. Atau paling tidak penyamaran tersebut cepat terbongkar, cepat diketahui oleh masyarakat luas. Sehingga kiranya kurang tepat bila nilai-nilai pewayangan divonis terlampau hitam-putih, sangat harmoni atau sangat mengkutup. Yang jelas semua ini tergantung bagaimana konteks yang ada. Memang dalam cerita-cerita Ramayana mungkin masih banyak nampak nilai-nilai hitam putihnya, namun dalam Mahabarata banyak sekali kebimbangan, keraguan, keabu-abuan (bukan hitam bukan putih). Kebimbangan nilai-nilai tersebut tercermin dalam kisah tokoh-tokoh seperti Kumbakarna, Gunawan Wibisana, Adipati Karna, Puntadewa dalam permainan dadu dan sebagainya.     

Sebenarnya saya bukan bermaksud menguraikan wayang kulit purwa gaya Surakarta ini dengan pendekatan filsafati, khususnya filsafat tingkah laku atau etika, di mana penuh dengan sisi kontroversial, apalagi bila diulas oleh seorang yang berada di luar kehidupan penghayatan budaya wayang yang Jawais, mereka hanya sekedar sebagai pengamat peneliti etika wayang. Dalam hal ini bukan berarti saya tidak menyukai inovasi dan berniat mengecilkan peranan para pakar tersebut. Namun karena saya lahir dibesarkan dan dipengaruhi oleh masyarakat yang berkebudayaan Jawa agraris, kiranya sangat sadar sedalam-dalamnya bahwa dalam sanubari saya mengalir dengan pekat dan deras nilai-nilai "tan hana dharma mangrawa", "wong cidra mangsa langgenga", "sing becik ketitik sing ala ketara", "ngundhuh wohing pakarti". Sehingga kelicikan Patih Sengkuni untuk memenangkan Korawa tentunya tidak sama dengan kearifan dan kebijakan Prabu Kresna untuk memenangkan Pandawa. Saya pandang sangat berbahaya sekali apabila Patih Sengkuni dan Prabu Kresna, Korawa dan Pandawa, Rahwana dan Arjuna Sasrabahu atau Rama Wijaya kemudian bergeser menjadi dua kutub yang tidak antagonis. Kalau pendapat yang demikian terjadi sebenarnya hanya salah pemahaman bagi para pakar pengamat etika wayang. Apalagi jika obyek-obyek pengamatannya mungkin kurang akurat dikarenakan pengamatan pada pergelaran dengan Dalang yang kurang tepat dalam sanggit, sehingga bisa saja terjadi pengubahan atau penggeseran patokan baku nilai moral. Karena ketatnya persaingan, banyak para Dalang yang ingin tampil beda sengaja mengubah karakter tokoh tertentu sehingga terlalu jauh menyimpang dari patokan baku moral wayang. Tokoh-tokoh Pandawa dibuat berseloroh seperti dagelan atau punakawan, hanya sekedar untuk tampil beda dengan Dalang-Dalang lainnya, hanya sekedar untuk memperoleh kepopuleran pribadi pionir perubahan, bukankah tokoh Pandawa ini harus kita tempatkan untuk melambangkan kejujuran, budi-luhur, bijaksana, membela yang tertindas, hidup sederhana dan sebagainya. Tokoh Batara Kresna ditempatkan sebagai orang yang tidak bersih, sebagai tokoh yang disudutkan karena kesalahannya. Bukankah ini dapat menyinggung kelompok masyarakat yang meyakini bahwa Mahabarata merupakan tunutunan hidupnya. Kiranya ada benarnya apa yang dikatakan oleh seorang Dalang dalam rekamannya, bahwa wayang dapat diibaratkan sebagai kawat sampiran (kawat gantungan). Sehingga dalam pakeliran akan digantungi apa pun bisa, akan dibebani pesan apa pun boleh, akan dimasuki misi apapun bisa, tergantung pada kesanggupan dan kemahiran Ki Dalang tentunya. Dengan semakin kontroversialnya, semakin beragamnya pendapat para pakar, sanubari saya lebih tergugah untuk melengkapi, menambahkan kepustakaan wayang dalam bentuk kumpulan wayang-wayang simpingan kiri, kanan dan dudahan ini. Karena analisa dengan pendekatan filsafat bukan bidang saya, apa pun pendapat para pakar adalah sesuatu yang saya anggap wajar, efektif atau tidaknya wayang sebagai sarana pendidikan budi pekerti, perlu atau tidaknya orientasi wayang dibongkar kiranya masyarakat beserta para pakar dan tokoh pewayangan sendirilah yang dapat menjawabnya. Anggaplah semua ini merupakan suatu tantangan bagi masyarakat pewayangan yang perlu segera dijawab dalam arti bebas dari sektarianisme, bila mungkin dalam arti universal. Namun ada pakar yang menyatakan bahwa perbedaan pendapat dalam pewayangan memang harus ada, jadi tidak perlu harus sama. Sebab pengamatan antar individu bersifat subyektif relatif, tergantung kemampuan, pengalaman, ketajaman penalaran dan intuisi seseorang. Karena saya mungkin hanya kelompok kaum mapan yang menjunjung tinggi seni budaya wayang sebagai seni budaya yang adi luhung. Oleh karena itu saya sadar sedalam-dalamnya bahwa pembahasan atau analisa masalah "nilai" (termasuk di dalamnya nilai-nilai pewayangan) sangat berbeda dengan "fakta". Karena "fakta" berbentuk kenyataan (konkrit), sehingga keberadaannya dapat diuji, karena fakta dapat ditangkap oleh panca-indera. Sedangkan "nilai" (khususnya nilai-nilai pewayangan) berbentuk "ide" (abstrak), sehingga eksistensinya tidak mungkin diuji baik dan buruknya, betul dan salahnya. Melainkan hanya dapat dihayati.  Sedangkan penghayatan atas sesuatu hanya dapat dicapai dengan cara merenungkan sesuatu itu sedalam-dalamnya melalui pertimbangan. Yang jelas apabila nilai-nilai pewayangan masih dapat digunakan sebagai landasan etika moral, tentunya kita dapat menanyakan pada diri masing-masing, apakah yang kita perbuat di dunia selama ini sebagai Rahwana, Sengkuni, Durna, Korawa atau Gunawan Wibisana, Adipati Karna, Kumbakarna, Bambang Sumantri atau Arjuna Sasrabahu, Rama Wijaya, Kresna, Yudistira atau campuran di antara tokoh-tokoh tersebut.
 
Dalam buku ini sistematika penyajiannya dimulai dari wayang dengan ukuran paling tinggi/paling kiri atau paling kanan ke arah yang paling kecil. Karena dalam pakeliran simpingan diatur demikian rupa berurutan dari wayang yang berukuran besar tinggi ke dalam ke arah wayang yang terkecil. Hal ini dilakukan untuk memperoleh keindahan, simpingan yang tidak berurutan tinggi rendahnya ukuran wayang disebut bejujag (bahasa Jawa). Demikian sistematika penyajian untuk wayang-wayang simpingan. Untuk wayang-wayang dudahan akan disajikan secara kelompok demi kelompok, tanpa pertimbangan tinggi rendahnya dan besar kecilnya wayang. Karena saat pakeliran wayang-wayang dudahan tetap berada dalam kotak, tidak terlihat oleh penonton, kecuali Ki Dalang menghendaki demi jejeran/adegan tertentu.

Telah beberapa kali saya sebutkan di atas alasan-alasan penulisan buku ini, namun secara eksplisit diharapkan buku ini bermanfaat bagi para peminat, khususnya bagi mereka yang mengetahui cerita wayang, tetapi belum tahu bentuk dari wayangnya atau mungkin sebaliknya. Di samping dapat mengisi sela-sela kebutuhan masyarakat pewayangan, mungkin dapat merangsang timbulnya kreasi-kreasi baru dalam seni kriya wayang. Kalaupun tidak dikatakan berlebihan, mudah-mudahan buku ini dapat juga membantu melestarikan dalam bentuk dokumentasi seni budaya wayang kulit purwa yang pernah ada di bumi Nusantara ini, khususnya wayang kulit purwa gaya Surakarta. Memang banyak cara untuk mempelajari wayang, namun menurut hemat saya untuk lebih cepat memahami dengan waktu lebih singkat, biaya relatif ringan, di antaranya masyarakat dapat mempelajari dalam bentuk tulisan atau buku semacam ini. Istilah-istilah yang dipergunakan dalam buku ini, khususnya rincian bagian dalam wayang banyak mengutip istilah-istilah dari buku-buku tentang seni kriya (tatah sungging) wayang. Oleh karena itu bagi pembaca yang benar-benar awam dalam peristilahan tersebut, saya anjurkan membaca buku-buku tentang seni kriya (tatah sungging) wayang. Karena dalam buku ini diusahakan untuk tidak terlampau banyak mengulang dan mengutip sesuatu yang pernah disajikan dalam buku-buku lain, maka dengan sengaja tidak dijelaskan di sini. Istilah-istilah yang saya maksudkan antara lain: rincian dari bagian-bagian wayang, jenis dan bentuk hidung, mulut, mata, kepala, tangan, badan, kaki, pakaian dan sebagainya.

Demikianlah apa yang dapat saya sampaikan sebagai pendahuluan, guna memandu pembaca, sehingga saya harapkan pembaca dapat dengan mudah memahami isi buku ini.      

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar