Minggu, 15 Juli 2012

Dudahan

I. WAYANG GOLONGAN DEWA-DEWA.


Wayang-wayang golongan Dewa-Dewa ini dikumpulkan berdasarkan pengamatan dan pengalaman menonton pergelaran wayang dengan berbagai cerita/lakon yang pernah ditunjukkan dalam pakeliran oleh para Dalang. Karena dalam pakem pedalangan pun dianjurkan menggunakan wayang lain, apabila tokoh wayang yang diinginkan tidak tersedia dalam seperangkat wayang yang disediakan/ dipergunakan. Sebagai contoh Batara Candra dapat dipinjamkan wayang Resi Manumayasa atau wayang lainnya. Bahkan pernah terlihat seorang Dalang yang sudah cukup terkenal menunjukkan Batara Citrarata dan Batara Citrasena dalam lakon "Sudamala", karena kedua Dewa tersebut kualat mengintip Batara Guru bersama para Bidadari yang sedang mandi telanjang di taman Tinjomaya, berubah wujud menjadi dua raksasa. Setelah teruwat oleh Raden Nakula, yang ditunjukkan sebagai Batara Citrarata dan Batara Citrasena adalah wayang Raden Seta dan Raden Utara. Pada waktu itu pergelaran diadakan di arena terbuka "aja dumeh" anjungan Jawa Tengah TMII. Dengan Dalang yang sama, pernah terlihat dalam siaran pergelaran wayang kulit purwa di televisi INDOSIAR, Batara Antaboga pernah digantikan dengan wayang Prabu Basudewa. Penampilan wayang serupa tersebut di atas, pernah terlihat tokoh Batara Bayu digantikan dengan wayang Tuguwasesa, hal tersebut dilakukan karena tokoh wayang Batara Bayu memang tidak tersediakan dalam seperangkat wayang yang dipergunakan. Memang dalam pakeliran tokoh-tokoh wayang yang dalam istilah modern disebut tidak populer, biasanya wayang yang ditampilkan banyak dipinjamkan wayang lain atau disebut wayang "srambahan", termasuk di antaranya tokoh-tokoh wayang golongan Dewa ini. Ada seorang pakar seni kriya wayang kulit purwa yang berpendapat bahwa seorang Dalang baginya yang lebih penting adalah kriteria "cepengannya" (enak dipegang). Oleh karena itu tidak mengherankan, walaupun tokoh wayang yang semestinya ada dalam seperangkat wayang yang disediakan, namun digantikan dengan tokoh wayang lainnya yang mungkin sudah terbiasa dipegangnya (wayang milik pribadi Dalang) hingga enak dimainkannya di kelir. Apalagi ajakan untuk membiasakan mengeluarkan/menunjukkan wayang dengan wanda yang sesuai dengan lakon yang dikelirkan, suasana dalam pakeliran (sedih, gembira, ragu, kaget, marah, tua, muda dan sebagainya), kiranya hal tersebut perlu sering didiskusikan dalam sarasehan-sarasehan formal pewayangan/pedalangan.

Wayang-wayang yang termasuk golongan Dewa ini sebenarnya banyak juga jumlahnya. Kiranya sama juga dengan wayang-wayang golongan Korawa yang telah jelas berjumlah 100 tokoh. Bagaimanapun kesungguhan seseorang mencari sumber-sumber yang berkaitan dengan wayang-wayang golongan Dewa ini, pembuatan wayang memerlukan waktu belasan tahun, namun nampaknya tidak mungkin semua wayang golongan Dewa-Dewa dapat dibuat seluruhnya. Baiklah untuk berikut ini akan dimulai menunjukkan satu demi satu wayang golongan Dewa-Dewa yang telah dibuat berdasarkan pengamatan pada pergelaran-pergelaran yang pernah ada, di samping referensi buku-buku pewayangan. Wayang golongan Dewa ini dalam pedalangan ataupun cerita memiliki umur yang sangat panjang, tidak akan mengalami kematian, walaupun dapat merasakan sakit. Hal tersebut dikarenakan para Dewa pernah ditetesi air penghidupan dari sendang di gunung Mandara oleh Batara Guru..

1. BATARA SAMBO.

Gambar-303: BATARA SAMBO
Dalam lakon "Jagat Ginelar", Batara Sambo adalah putra pertama Batara Guru dengan Batari Uma. Saudara-saudara seibu seayah lainnya adalah: 1.Batara Brama, 2.Batara Indra, 3.Batara Bayu, dan 4.Batara Wisnu. Batara Sambo bersemayam di Kahayangan Hargadaksina/Swargadaksina atau Kahayangan Swelagringging, permaisurinya bernama Batari Siwagnyana dan Batari Astuti.

Dalam Ensiklopedi diceritakan Batara Sambo pernah menjadi raja di negara Medangprawa dengan gelar Sri Maharaja Maldewa. Patihnya bernama Resi Acakelasa. Batara Sambo berwatak jujur, dapat dipercaya.

Bentuk wayangnya berhidung dempak, bermata telengan, berjanggut wok, berjamang dua susun, bersurban, muka disungging warna prada/emas, bersumping surengpati, bersampir selendang, berkeris di depan, berjubah dan bersepatu.

Dalam jejer pertama negara Astina, Ki Dalang dalam menceritakan keagungan raja Astina Prabu Duryudana, sering diibaratkan sebagai Batara Sambo yang mengejawantah.



2. BATARA BRAMA.
Gambar-304: BATARA BRAMA
Batara Brama adalah putra kedua Batara Guru dengan permaisuri Dewi Uma. Batara Brama berkedudukan di Kahayangan Hargadahana atau Swargadahana. Beristrikan tiga orang Bidadari yaitu: Dewi Suci/Wasi, Dewi Saraswati dan Dewi Rarasati. Batara Brama dalam pedalangan diceritakan sebagai Dewa api. Karena itu Batara Brama dapat membasmi segala keburukan/kejahatan dengan kesaktiannya mengeluarkan api. Kerap sekali diutus Batara Guru untuk memberikan pahala/anugerah kepada para insan di arcapada yang berjasa terhadap Kahayangan Suralaya maupun berjasa menciptakan/menjaga kedamaian dunia/memayu hayuning bawana (bahasa Jawa). Pada waktu Raden Kakrasana bertapa di Argasunya diberikannyalah senjata Nenggala dan Alugara. Dalam lakon "Wisanggeni Lahir", Batara Brama pernah memisahkan atau menceraikan putrinya yang bernama Dewi Drestanala dengan suaminya Raden Arjuna, atas perintah Batara Guru yang telah dipengaruhi Batari Durga. Dewi Drestanala sempat dipaksa dibawa oleh Batari Durga untuk dikawinkan dengan Dewasrani putranya raja Tunggulmalaya. Karena paksaan tersebut terlahirlah bayi yang dikandung oleh Dewi Drestanala hasil perkawinannya dengan Raden Arjuna yang bernama Wisanggeni.

Dari keturunan Batara Brama inilah kemudian menurunkan raja-raja di negara Astina, Amarta, Mandura, Wirata dsb. Bahkan raja-raja Lokapala, Alengka, Maespati dan Ayodya pun masih ada kaitan keturunan Batara Brama.

Batara Brama adalah seorang Dewa panglima perang yang ulung, ia mudah sekali marah, tidak disangsikan lagi keberaniannya mengenyahkan semua musuh-musuh yang menyerang Suralaya. Untuk itu ajian kesaktian api dikeluarkannya pada waktu marah mengeyahkan musuh-musuh Suralaya.

Wayang Batara Brama bermata kedelen, berhidung lancip sembada, berjanggut wok, muka dongak disungging warna merah, menunjukkan watak yang mudah sekali marah/brangasan (bahasa Jawa), berjamang tiga susun, bermahkota, bergaruda membelakang, berambut terurai di pundak, berbaju lengan panjang warna merah (lambang Dewa Api), berkeris terselip di depan, berkain rapekan Dewa, berkelat bahu, bergelang, berkerocong dan bersepatu. Namun pernah terlihat ada juga yang membuat wayang Batara Brama bersurban dan berjubah, tidak seperti yang ditunjukkan di sini. Wayang yang demikian ini mungkin yang disebut wayang kasepuhan.


3. BATARA BASUKI.

Gambar-305: BATARA BASUKI

Dalam pakeliran sangat jarang ditampilkan wayang Batara Basuki, ia adalah Dewa keselamatan dan berwujud sebagai ular putih. Batara Basuki menjelma kepada ksatria yang berjiwa selamat/basuki yaitu raja Mandura, Prabu Baladewa yang berkulit putih, sebagai lambang kesucian atau keselamatan, terlepas dan terluput dari segala keburukan dan kesalahan. Sehingga pada masa tuanya Prabu Baladewa terhindar dari pertikaian keluarga yang berperang dalam Baratayuda. Terkenal dalam janturan (bahasa Jawa) atau penuturan seorang Dalang pada waktu jejer Prabu Baladewa diibaratkan sebagai Batara Basuki mengeja wantah.
Setelah keturunan Yadawa lenyap dan Prabu Baladewa akan meninggal, Batara Basuki keluar dari tubuh Kakrasana melalui mulutnya dijemput oleh para naga, diantaranya Naga Taksaka, Kumuda, Mandarika, Hreda, Durmuka, Prawedi dan lain-lain kembali ke patala. Hal ini terdapat dalam  ”Mosala Parwa”, di kitab Mahabarata.
Bentuk wayang wajah mirip Prabu Baladewa hidung mancung, mata kedelen, muka warna merah, bermahkota, rambut terurai dan berselendang di pundak, berbaju merah, berkain rapekan Dewa. Jika wayang Batara Brama tidak ada dapat menggunakan wayang Batara Basuki ini. Bahkan dalam kenyataan pergelaran-pergelaran yang pernah ada yang dipergunakan sebagai Batara Brama juga wayang Batara Basuki ini.


4. BATARA DANISWARA.


Gambar-306: BATARA DANISWARA
            Batara Daniswara sebenarnya adalah Prabu Danaraja atau Danapati raja Lokapala setelah negerinya diserang oleh adik tunggal ayah lain ibu, yaitu raja Alengka yang terkenal bernama Prabu Dasamuka atau Rahwana, kemudian diangkat oleh kakeknya Begawan Padma ayah Begawan Wisrawa yang telah menjadi Dewa di Kahayangan Suralaya, atas perkenan Batara Indra,
            Serangan Rahwana ke Lokapala ini diawali dari peringatan Prabu Danaraja melalui suratnya yang disampaikan oleh Patih andalan negeri Lokapala yang bernama Ditya Gohmuka. Karena Rahwana baru saja memperoleh ajian Pancasona dari Resi Subali, di mana walaupun satu hari mati seribu kali dengan ajian Pacasona tetap akan hidup kembali. Di dunia ini hanya Resi Subali dan Rahwana saja yang memiliki ajian Pancasona ini. Oleh karena itu Rahwana menjadi semakin menggila nafsu angkara murkanya. Setelah meninggalnya Dewi Sukasalya yang diberikan oleh Dasarata dari Dandaka, Rahwana menuntut balik kepada Dasarata. Namun dijelaskannya oleh Dasarata bahwa mati hidup manusia ini Dewa di Suralaya yang menentukan. Rahwana menjadi marah dan mempersiapkan bala tentaranya untuk menyerang Para Dewa di Suralaya. Mendengar rencana penyerangan Rahwana ke Suralaya, maka Prabu Danaraja mengingatkan jangan sampai menyerang Kahayangan Suralaya dan Rahwana agar menghormati Para Dewa di Suralaya.
            Karena surat peringatan Prabu Danaraja, maka penyerangan berubah dari Kahayangan Suralaya pindah ke negeri Lokapala. Sehingga pertempuran sangat hebat, karena banyak sekali korban yang diderita oleh prajurit Lokapala. Patih andalan Lokapala Ditya Gohmuka terpenggal melenting kepalanya oleh pedang Mintawa Rahwana, Patih Banendra bersama-sama prajurit-prajurit pahlawan Lokapala lainnya: Citracapa, Citrajaya, Citrayuda terbunuh semua oleh Rahwana.
            Prabu Danaraja sangat prihatin atas serangan adiknya ini, akan tetapi kemudian teringat akan kata-kata Batara Narada ketika ia akan membunuh ayahnya, bahwa karena perbuatan itu kelak Lokapala akan dihancurkan oleh saudaranya sendiri. Karena para prajurit, para patihnya telah terbunuh semua maka Prabu Danaraja maju ke medan perang menghadapi Rahwana. Pertempuran keduanya sangat seru, Prabu Danaraja terkenal raja yang sangat sakti dan menguasai olah perang, demikian pula Rahwana memiliki ajian Pancasona. Namun dengan kecepatan kilat Rahwana dapat menghantam kepala Danaraja hingga hancur dan berhamburan darah. negara Lokapala diserahkan kepada Rahwana, Danaraja diangkat ke Indraloka menjadi Dewa yang dikenal sebagai Batara Daniswara yang bertugas menjaga kembang Dewaretna.
            Kisah Batara Daniswara dan adiknya Rahwana rupanya tidak putus disini, pada waktu Rahwana datang di Indraloka melihat kembang Dewaretna  yang berkasiat dapat menghidupkan kembali semua orang yang telah meninggal, ia ingin meminta kembang tersebut. Kembang tidak diberikan, tetapi dengan secara paksa kembang tersebut dibawa lari ke Alengka dan diserahkan kepada Patih Prahasta untuk menjaganya. Tetapi berkat bantuan seekor kera pujaan dari kumbang penunggunya yang bernama Kapi Pramuja, maka kembang tersebut dapat diambil kembali dari Alengka dibawa ke Kahayangan Indraloka. Percakapan antara Batara Daniswara dengan Rahwana ini sangat banyak mengandung kajian ajaran kebaikan, tentunya sangat tergantung pada sanggit Ki Dalang yang pasti.
            Wayang Batara Daniswara ini dibuat berdasarkan penafsiran belaka, apakah wayang Batara Daniswara telah dibuat orang tidak seperti ini, tentunya mungkin saja terjadi. Pernah terlihat dalam suatu pergelaran dengan lakon “Kembang Dewaretna”, karena wayang Batara Daniswara tidak ada dalam kotak, maka sebagai penggantinya dikeluarkan wayang Gandamana. Maka dalam kerangka rasa ingin melengkapi jumlah wayang gaya Surakarta ini, disini dibuat  Batara Daniswara seperti ini. Hidung dempak, mata telengan, muka disungging warna prada, bermahkota, berpraba, memakai baju dewa, berkain rapekan dewa dan bersepatu.


5. BATARA KUWERA

Gambar-307: Batara Kuwera
Batara Kuwera bersemayam di Kahayangan Gudapada, adalah putra ketiga Batara Ismaya dengan Dewi Senggani. Putra Batara Ismaya yang lainnya adalah: Batara Wungkuan, Batara Tamboro, Batara Wrahaspati, Batara Siwah, Batara Surya, Batara Candra, Batara Yamadipati, Batara Kamajaya dan Dewi Darmanasti. Batara Kuwera menikah dengan Dewi Sumarekti, putri Batara Caturkanaka dengan Dewi Hira. Namun ada juga sumber yang menyatakan bahwa Batara Kuwera juga Batara Daniswara atau Danapati atau Danaraja raja Lokapala yang telah gugur melawan Rahwana raja Alengka adiknya tunggal ayah, kemudian oleh Batara Guru diangkat sebagai Dewa yang bertugas menjaga kembang Dewaretna. Dalam pewayangan sangat sering terjadi perbedaan cerita, walaupun nama sama, karena banyaknya sanggit dan gubahan yang dibuat oleh para penutur cerita wayang dan para Dalang.
Batara Kuwera adalah lambang kesejahteraan dan kemanusiaan. Ia bertugas memberi petunjuk, fatwa, pahala, perlindungan dan pertolongan kepada manusia di arcapada. Oleh karena itu tidak aneh jika dalam pedalangan Batara Kuwera disebut  juga sebagai Dewa Kekayaan. Selain sebagai seorang Dewa yang kaya, Batara Kuwera juga seorang arsitek yang hebat. Keraton Amarta yang dibangun di bekas hutan Mretani nampak sangat indah sekali berkat bantuan Batara Kuwera. Lantainya mengkilap, sehingga pada waktu Prabu Duryudana berkunjung ke Amarta waktu Sesaji Rajasuya selesai, tidak sadar diangkat kainnya tinggi-tinggi khawatir basah. Sebaliknya ketika benar-benar ada kolam disangka lantai sehingga terjebur basah kuyup sehingga disoraki para raja seratus negara. Dari sini timbul rasa malu, dendam dan iri hati Prabu Duryudana terhadap negara Amarta, yang akhirnya mengundang bermain dadu, sehingga karena kelicikan Patih Sengkuni Pandawa kalah dan harus meninggalkan Amarta dan akhirnya timbul perang besar yang disebut Baratayuda.
Dalam lakon ”Pandawa Matirta”, karena Pandawa kalah main dadu maka harus meninggalkan negeri Amarta. Untuk memperoleh kemuliaan dan kesejahteraan kembali Dewi Drupadi permaesuri Prabu Puntadewa memohon Kembang Tunjung Sugandika sebagai syaratnya. Maka Raden Bratasena diutus untuk mengupayakan kembang tersebut, namun tidak diketahui di mana kembang tersebut berada. Dalam perjalanan bertemu dengan Anoman yang sedang bertapa di hutan di tengah jalan memohon kepada Dewa untuk dapat dipertemukan dengan saudaranya tunggal Bayu yaitu Raden Bratasena. Oleh karena itu sangat kebenaran sekali, Anoman dapat menjumpai saudara tunggal Bayunya dan diberitahukannya kepada Raden Bratasena bahwa Kembang Tunjung Sugandika adanya di Taman Andana di Kahayangan Gudapada tempat bersemayam Batara Kuwera. Sesampainya di Taman Andana Raden Bratasena berjumpa dengan penunggunya dua orang raksasa Ditya Wirupaksa dan Ditya Wirakampana. Karena kembang tidak diberikannya maka terjadi perkelaian  sehingga kedua raksasa dapat dikalahkan dipijak kedua lehernya tidak dapat bergerak lagi. Batara Kuwera melihat keadaan ini, maka dilerai perkelaian tersebut, supaya kedua raksasa abdi penunggu taman dilepas. Dijelaskannya bahwa kembang tersebut memang disediakan untuk Raden Bratasena, namun karena kedua raksasa tersebut tidak mengetahui bahwa Raden Bratasena itu juga Raden Werkodara, maka terjadi perkelaian.
Bentuk wayang Batara Kuwera, berhidung dempak, bermata telengan, bertopong, berpraba, bersampir, berkeris di depan, berbaju, bersepatu dan berkain rapekan Dewa, wayang ini termasuk wayang gagahan. Tetapi ada juga yang menafsirkan berhidung lacip seperti Batara Indra, bahkan ada yang menafsirkan Batara Kuwera itu juga Batara Wisrawa. Adanya perbedaan penafsiran dalam pewayangan seperti ini adalah sangat lumrah, apalagi bagi wayang-wayang yang kurang populer atau jarang sekali keluar dalam pakeliran.


10. BATARA CANDRA.

Gambar-313: BATARA CANDRA
Batara Candra adalah Dewa Bulan, putra Batara Ismaya dengan Dewi Senggani, putri Sangyang Wening. Ia bertugas menerangi Arcapada pada waktu malam hari, bergiliran dengan Batara Surya kakaknya, yang bertugas pada siang hari. Dalam menerangi dunia, Batara Candra bersama-sama dengan Batara Kartika memberikan sinar kesejukan pada perasaan dan pandangan makluk di bumi pada waktu malam hari.
Batara Candra mengetahui dimana Ditya Rembuculung bersembunyi pada waktu malam hari, setelah mencuri air penghidupan (banyu panguripan) dan memberitahukan kepada Dewata yang akhirnya Ditya Rembuculung dapat dipenggal lehernya dengan senjata cakra oleh Batara Wisnu. Badannya jatuh di bumi dan berubah menjadi lesung tempat menumbuk padi, sedangkan kepalanya terus mengembara hidup di angkasa karena telah minum air penghidupan serta mengancam akan menelan Batara Candra dan Batara Surya pada setiap waktu. Pada saat Batara Candra atau Surya termakan oleh Ditya Rembuculung, dunia menjadi gelap, keadaan yang demikian disebut gerhana bulan atau matahari. Untuk supaya keduanya segera terlepas dari mulut Rembuculung sehingga bumi menjadi terang kembali, maka pada zaman dulu di Pulau Jawa ada adat memukul lesung jika terjadi gerhana. Tentunya untuk masa sekarang kebiasaan yang demikian sudah tidak relevan lagi.
Bentuk wayang Batara Candra, muka dongak, berhidung lancip, mata gabahan, bertopong, bersampir dipundak, berbaju, berkain rapekan sebagaimana umumnya Dewa dan bersepatu. Wayang ini sama dengan wayang-wayang yang kurang terkenal lainnya, jarang dibuat atau ada dalam seperangkat wayang yang disediakan dalam suatu pergelaran.


  11. BATARA CITRASENA DAN CITRAGADA.

Gambar-314: BATARA CITRASENA

Gambar-315: BATARA CITRAGADA
Batara Citrasena dan Citragada nampak di pakeliran dalam lakon ”Sudamala”. Dimana kedua Dewa kembar penjaga Kahayangan Tinjomaya ini dikisahkan menerima pidana berubah rupa menjadi dua raksasa karena dipersalahkan mengintip Batara Guru yang sedang mandi di sendang bersama para Bidadari. Kedua raksasa itu bernama Ditya Kalanjaya dan Ditya Kalantaka. Untuk dapat diruwat pulih kembali mejadi Dewa, kedua raksasa ini datang ke negara Astina menemui Begawan Durna seorang Pendeta yang sangat terkenal menguasai  segala macam ilmu pengetahuan. Begawan Durna sanggup meruwat tetapi dengan syarat kedua raksasa tersebut dapat menyajikan panggang manusia lima bersaudara laki-laki semua. Lima saudara laki-laki semua adalah para Pandawa, ini merupakan siasat Korawa untuk menghancurkan Pandawa sebelum perang Baratayuda terjadi.
Dalam perjalanan mencari panggang manusia tersebut, Ditya Kalanjaya dan Kalantaka bertemu dengan pendeta Parangalas yang bernama Begawan Tambrapeta dan kedua putrinya Dewi Soka dan Padapa yang sedang mencari Raden Nakula dan Sadewa. Dilihatnya ada dua wanita yang cantik-cantik, maka kedua raksasa tersebut mengejarnya. Dalam pengejaran ini mereka berjumpa dengan Raden Nakula dan Sahdewa, sehingga kedua raksasa ini dapat dikalahkan dengan diadu dibenturkan kedua kepala mereka hingga tewas. Tewasnya kedua raksasa ini berubah menjadi Batara Citrasena dan Batara Citragada. Atas jasa meruwat kedua raksasa ini dan memang kehendak kedua putri tersebut Dewi Soka menjadi istri Raden Nakula dan Dewi Padapa menjadi istri Raden Sadewa.
Bentuk wayang Batara Citrasena dan Citragada, hidung lancip, mata kedelen, muka disungging warna merah, bergelung kadal menek, memakai (sampir, baju, sepatu dan kain rapekan Dewa). Jika wayang ini tidak ada dalam satu kotak wayang yang disediakan bisa saja menggunakan wayang Raden Utara dan Wratsangka. Penafsiran ini dilakukan tiada lain  terkecuali ingin menambahkan jumlah wayang yang ada khususnya Gaya Surakarta ini. Benar dan salahnya terbalik pada para Dalang dan pencinta wayang.


14. BATARA ANTABOGA.
Gambar-319: BATARA ANTABOGA
Batara Antaboga adalah Dewa bumi lapis yang ketujuh, terkenal sebagai Dewa Ular. Kahayangannya disebut Saptapratala. Ia adalah anak keturunan Sanghyang Wenang. Beristerikan Dewi Supreti dan berputra tiga orang yaitu Dewi Pratiwi atau Pertiwi, Dewi Nagagini dan Bambang Nagatatmala. Dewi Pratiwi menjadi isteri Batara Wisnu, karena Batara Wisnu telah menitis pada Prabu Kresna raja Dwarawati, maka pada waktu Bambang Sitija/Suteja dan Dewi Siti Sundari menanyakan ayahnya, oleh Batara Guru ditunjukkannya bahwa Prabu Kresnalah orang tuanya. Dalam lakon "Bale Sigalagala" Batara Antabogalah yang menjelma menjadi garangan putih menolong para Pandawa yang mengalami musibah akan dibakar oleh para Korawa di dalam pesta. Para Pandawa diajak masuk terowongan dalam bumi yang akhirnya tembus ke Kahayangan Saptapratala. Di Saptapratalalah Para Pandawa tinggal untuk beberapa waktu, sehingga Raden Bratasena pun sempat mengawini Dewi Nagagini putri Batara Antaboga, dan kemudian menurunkan Raden Antareja.

Dalam lakon carangan "Topeng Waja", Batara Antaboga pernah membantu cucunya, anak Dewi Pratiwi yaitu Bambang Suteja. Di mana wahyu keprajuritan atau senopati perang yang semestinya akan dianugerahkan kepada raja Pringgondani Prabu Anom Gatotkaca, dibelokkan akan dianugerahkan kepada Prabu Bomanarakasura. Dalam peristiwa tersebut Prabu Kresna pun secara lahir telah membantu Prabu Bomanarakasura, tetapi karena jasa-jasa Raden Gatotkaca terhadap negara dan Kahayangan Suralaya jauh lebih besar dibandingkan dengan Prabu Bomanarakasura yang telah bersekutu dengan sukma Dasamuka si Angkaramurka, maka berkat kewaspadaan dan kecerdikan Raden Wisanggeni, wahyu tetap jatuh pada Raden Gatotkaca. Wayang yang diperlihatkan sebagai Batara Antaboga pada waktu itu wayang Prabu Basudewa. Pergelaran diadakan di Surabaya dan disiarkan oleh televisi INDOSIAR.
           
Dalam lakon “Kikis Tunggarana”, Dalang anak seorang Dalang yang sudah cukup terkenal juga, pergelaran diadakan di gedung pertemuan gelanggang remaja Jakarta Timur, diceritakan Batara Antaboga berperang melawan Batara Nagaraja, karena membela Prabu Bomanarakasura melawan Prabu Gatotkaca. Demikian juga Dewi Pertiwi melawan Dewi Nagagini.

Ada gubahan, sanggit atau kreasi yang menceritakan bahwa Dewi Nagagini adalah anak Batara Antaboga sedangkan Dewi Pertiwi adalah anak Batara Nagaraja, oleh karena begitu banyaknya sanggit sehingga kadangkala dapat membingungkan para penggemar wayang. Tentunya adanya pnomena  seperti ini tidak perlu dipersoalan, suatu perbedaan dalam suatu karya kesenian dan budaya adalah hal yang biasa, malahan dapat menambah banyaknya versi.

Di sini ditunjukkan salah satu wujud wayang Batara Ataboga dalam suatu penafsiran. Batara Antaboga bermuka agak tunduk disungging warna merah muda, berhidung mancung, bermata kedelen, berjanggut wok, berjamang tiga susun, bertopong, bergaruda membelakang, berbaju lengan panjang, bersampir selendang, berkeris di depan, berpontoh, berkeroncong, berkain rapekan Dewa dan bersepatu.


15. BATARA BARUNA.
Gambar-320: BATARA BARUNA
Untuk wayang gaya Surakarta umumnya jarang ditunjukkan wayang Batara Baruna ini. Dalam pergelaran-pergelaran khususnya gaya Yogyakarta sering ditampilkan Batara Baruna dengan bentuk Dewa yang berwajah ikan. Namun dalam rekaman kaset wayang dengan lakon ”Pendadaran Siswa Sokalima” pernah Ki Anom Suroto Lebdo Carito menampilkan Batara Baruna ini pada saat Raden Bratasena atas hasutan Patih Sengkuni diracun darubeksi wisamandi dan dibuang ke samudra oleh para Korawa. Sehingga Raden Bratasena dapat bertemu dan ditolong oleh Batara Baruna, diperintahkannya para penghuni samodra supaya menyerap racun yang ada dalam tubuh Raden Bratasena serta diberikan minuman tambahan kekutan dengan meminum air rasakunda. Setiap meminum satu kendi air rasakunda ini kekuatan akan bertambah delapan kali kekuatan gajah,  dan Raden Bratasena kuat meminum sepuluh kendi, yang berarti kekuatan bertambah delapanpuluh kali kekuatan gajah. Di samping bebas dari racun Raden Bratasena diberikannya ajian sesupe druwenda yang khasiatnya dapat berjalan di atas air layaknya di darat dan kemudian dipersandingkannya oleh Batara Baruna dengan putrinya yang bernama Dewi Rekatawati. Dari perkawinan Raden Bratasena dan Dewi Rekatawati ini memperoleh seorang anak yang diberi nama Bambang Rananggana.
Dalam lakon ”Arjunasasra Cangkrama Samodra”, Dengan memberikan cupu Banyu Panguripan kepada Prabu Arjuna Sasrabahu, Dewa ini pernah menghidupkan kembali semua prajurit Maespati yang gugur akibat serangan Raja Alengka Prabu Dasamuka dan putri domas yang mati bunuh diri akibat hasutan Ditya Kala Marica. Terkecuali Patih Suwandagni atau Bambang Sumantri tidak dapat dihidupkan kembali karena sudah menjadi takdirnya. Dalam lakon ”Rama Tambak”, Dewa ini pernah membantu Prabu Rama Wijaya untuk membuat tambak untuk menyeberang ke Alengka.
Wayang Batara Baruna ditafsirkan berwajah tunduk disungging warna merah muda, mata kedelen, hidung mancung, bermahkota, rambut terurai di pundak, berbaju, berkain dan bersepatu Dewa umumnya. Tentunya  para pembuat wayang bebas memberikan tafsiran.



16. BATARA NAGARAJA.
Gambar-321: BATARA NAGARAJA
            Batara Nagaraja adalah raja taksaka (ular) yang bersemayam di Sumur Jalatunda. Permaesurinya bernama Dewi Taksiki.  Dari perkawinannya ini, ia memperoleh putra dua orang yaitu: Dewi Pratiwi dan Bambang Pratiwanggana. Banyak versi dalam pewayangan atau pedalangan, yang hal ini disebabkan oleh banyaknya sanggit, kreasi ataupun gubahan-gubahan baru, sehingga dalam penuturan maupun pakeliran banyak juga perbedaan-perbedaan. Oleh karena itu suatu hal yang wajar-wajar saja apabila ada yang menceritakan bahwa Dewi Pratiwi bukan putra Batara Nagaraja, tetapi putra sulung Batara Antaboga di Kahayangan Saptapratala, bersaudara dengan Dewi Nagagini istri Raden Bratasena yang memperoleh putra Raden Antareja.
            Tetapi pernah terlihat dalam pergelaran ditunjukkan bahwa antara Dewi Pertiwi dan Dewi Nagagini merupakan dua putri yang tidak ada hubungan keluarga, yaitu dalam lakon “Kikis Tunggarana”  dimana pada waktu Prabu Bomanarakasura bertanding dengan Raden Gatotkaca berebut wilayah Tunggarana, peperangan melebar melibatkan Dewi Pertiwi melawan Dewi Nagagini, sedangkan Batara Antaboga bertanding melawan Batara Nagaraja.
            Dalam lakon “Batara Wisnu Krama”, Batara Nagaraja bersedia menerima lamaran Batara Wisnu dan menyerahkan Dewi Pertiwi apabila dapat memenuhi satu persyaratannya yaitu, menyerahkan Akar dan Cangkog Kembang Wijayamulya yang kasiatnya dapat menghidupkan orang mati di luar takdir. Akar Kembang Wijayamulya ada dalam mulut Singamurti peliharaan Prabu Wisnudewa dari Garbapitu yang ingin melamar Dewi Pertiwi, sedangkan Cangkok Kembang Wijayamulya ada dalam mulut banteng Handakamurti peliharaan Dewi Pertiwi. Pada waktu lamaran Prabu Wisnudewa tidak diterima, maka Singamurti mengamuk dan dihadapi oleh banteng Handakamurti. Sehingga keduanya mati sampyuh dan berubah menjadi Akar dan Cangkok Kembang Wijayamulya yang kemudian diambil Batara Wisnu untuk melengkapi Kembang Wijayakusuma miliknya. Dengan didukung para Dewa, Batara Wisnu disandingkan dengan Dewi Pertiwi yang kemudian memperoleh keturunan bernama Bambang Sitija dan Dewi Sitisundari. Setelah Batara Wisnu harus turun ke Arcapada bertugas menjelma kepada raja-raja di Arcapada untuk membagi-bagi kebahagiaan kepada seluruh umat manusia di bumi, maka oleh Dewi Pertiwi Akar dan Cangkok Kembang Wijayamulya diberikannya kepada Bambang Sutija, yang digunakan sebagai senjata dalam mencari orang tuanya yang telah menitis kepada raja Dwarawati Prabu Kresna.
            Wayang Batara Nagaraja disini ditafsirkan muka tunduk disungging warna merah muda, mata kedelen, hidung mancung, memakai mahkota, selendang/sampir di pundak, berkain katongan.  Ada yang menafsirkan Batara Nagaraja berupa seekor ular besar. Betul dan tidaknya penafsiran ini terbalik kepada para Dalang dan pencipta wayang tentunya.



VI. DENAWA-DENAWA ALENGKA.


Denawa-denawa Alengka seharusnya memang dilengkapi secara khusus, tetapi karena kurangnya/terbatasnya jumlah wayang yang disediakan dalam pergelaran-pergelaran maka dalam lakon-lakon yang bersumberkan Ramayana di mana wayang tokoh-tokoh Alengka banyak dipertunjukkan wayang-wayang denawa prepatan (srambahan). Di samping sulitnya mencari sumber-sumber dalam bentuk media cetak, sampai saat pembuatan wayang ini selesai, nampaknya untuk memperbanyak referensi perlu meneliti/mengamati jenis wayang Ramayana yang mungkin ada, khususnya wayang pusaka keraton Mangkunegaran. Oleh karena itu apa yang ditunjukkan di sini hanyalah merupakan penafsiran pribadi ditambah beberapa pengamatan pada pergelaran-pergelaran yang pernah ada. Karena dalam pergelaran wayang, ada kemungkinan Ki Dalang mengeluarkan wayang atas dasar cepengan (bahasa Jawa)/enaknya dipegang saja, walaupun wayang yang sebenarnya ada, sehingga digantikan dengan wayang lain. Biasanya seorang Dalang mempunyai atau membawa wayang milik sendiri yang kemungkinan disayangi enak dipegangnya (sabetannya). Apalagi untuk melaksanakan mengeluarkan wayang dengan wanda sesuai dengan keadaan dalam pakeliran, tentunya pendapat yang demikian tidak mudah untuk dilaksanakan. Baiklah kiranya dapat dimulai menguraikan/menunjukkan wayang golongan denawa/buta dari Alengka secara satu persatu walaupun masih belum lengkap benar.


1.   RADEN KUMBAKARNA.
 
 Gambar-409: RADEN KUMBAKARNA MUDA

 
Gambar-410: RADEN KUMBAKARNA DEWASA


Raden Kumbakarna adalah putra Begawan Wisrawa dengan Dewi Sukesi setelah dapat membacakan ilmu ”sastra jendra” . Raden Kumbakarna merupakan putra yang kedua, adik Rahwana/Dasamuka dan kakak dari Sarpakenaka dan Gunawan Wibisana. Walaupun berwujud raksasa besar tetapi berjiwa ksatria dan berbudi pekerti luhur. Berkedudukan di ksatrian Pangleburgongsa. Ketika bertapa di Gunung Goh Karna mendapatkan anugerah dari Dewa suatu ilmu kesempurnaan dan seorang Bidadari cantik bernama Batari Kiswani. Kumbakarna tidak suka terhadap keserakahan dan angkara murka, oleh karena itu, ia selalu menentang kakaknya Dasamuka yang serakah dan angkara murka itu.

Suatu ketika banyak prajurit senapati Alengka yang telah gugur di medan perang melawan bala tentara Prabu Rama Wijaya, maka diutuslah Raden Indrajit untuk memanggil Raden Kumbakarna dari ksatrian Pangleburgongsa, dikatakannya bahwa negara Alengka telah diduduki bala tentara wanara dari Pancawati dan kedua putranya Aswanikumba dan Kumbakumba telah gugur di medan laga. Maka murkalah Raden Kumbakarna demi negara dan kedua putranya maju ke medan perang mengamuk bukan untuk membela keangkaramurkaan kakaknya Rahwana. Kumbakarna maju perang setelah mandi jamas dan mengenakan pakaian yang serba putih, di medan laga dikeroyok oleh beribu-ribu tentara wanara di bawah pimpinan Narpati Sugriwa, hingga banyak prajurit wanara yang gugur, termasuk Narpati Sugriwa sendiri tidak mampu menghadapi kekuatan Raden Kumbakarna, walaupun hidung Raden Kumbakarna telah putus/gruwung (bahasa Jawa) digigitnya. Sehingga Narpati Sugriwa ditegur oleh Prabu Rama, bahwa seorang ksatria yang berbudi luhur dalam perang tidak dibenarkan menggigit. Namun berkat  permintaan adiknya Gunawan Wibisana yang telah memihak pada Prabu Rama, agar kakaknya mati sempurna dengan senjata panah Guwawijaya Prabu Rama, maka gugurlah Kumbakarna dengan tubuh terpenggal-penggal sebagaimana kisah Arya Jambumangli melawan Begawan Wisrawa dulu. Pada waktu Raden Kumbakarna maju perang, membawakan perbawa suasana alam seisinya ikut berduka cita, matahari redup, banyak pepohonan ikut layu, binatang-binatang tidak ada satu pun yang bersuara lagi, seolah-olah ikut menderita karena Raden Kumbakarna harus menentukan pilihan, untuk memisahkan antara membela negara/tanah air dan keangkaramurkaan kakaknya Rahwana. Ada Dalang yang mempunyai sanggit, pada waktu Raden Kumbakarna tiba di hadapan Rahwana dijamu dengan makanan yang enak-enak, karena selama ini Raden Kumbakarna selalu bertapa tidur, namun begitu Rahwana menuntut balik agar Raden Kumbakarna maju perang membela dirinya, maka makanan yang telah disantapnya dikeluarkan dari perutnya utuh seperti semula dan Raden Kumbakarna meninggalkan istana Alengka. Sukma Raden Kumbakarna ini kelak akan menyatu dengan Raden Werkodara satria penegak Pandawa lima, dalam lakon ”Rama Nitik”. Cerita kepahlawanan Raden Kumbakarna ini telah dituturkan dalam bentuk tembang Dandanggula yang terkenal dengan sebutan Serat Tripama, tiga tokoh wayang yang pantas ditauladani, yaitu: Bambang Sumantri, Raden Kumbakarna dan Adipati Basukarna. Dalam pergelaran-pergelaran wayang lakon ”Kumbakarna Gugur” ini sangat menyedihkan, apalagi ketika dibawakan oleh seorang Dalang yang memiliki banyak sanggit atau kreatifitas, disesuaikan dengan kemajuan zaman sehingga seolah-olah masih relevan kisah tersebut.    

            Wayang Raden Kumbakarna waktu masih muda ditunjukkan sebagai raksasa bergaruda besar, berpraba, tangan belakang lepas/udar (bahasa Jawa). Namun setelah dewasa tentunya berujud raksasa besar berbentuk Buta Raton sebagaimana telah ditunjukkan dalam kelompok wayang simpingan sebelah kiri. Ini adalah ujud wayang Kumbakarna muda menurut  kesan pribadi/tafsiran seorang penggemar atau pembuat wayang, tepat dan tidaknya tentunya kembali kepada para Dalang dan masyarakat pewayangan sendiri.


3. JAMBUMANGLI.
 
 Gambar-413: ARYA JAMBUMANGLI
 
Gambar-414: JAMBUMANGLI (GENERASI KEDUA)
Jambumangli adalah raksasa dari Alengka yang hidup sebelum Prabu Dasamuka lahir. Ia adalah kemenakan Prabu Sumali raja Alengka, anak Ditya Maliawan. Karena Jambumangli menaruh hati kepada Dewi Sukesi yang sepupunya sendiri, maka pada waktu sayembara mengartikan "sastrajendra hayuningrat pangruwating diyu" disiarkan oleh Jambumangli ditambah harus dapat mengalahkan dirinya. Jambumangli raksasa besar, luar biasa kekuatannya, banyak para raja ksatria yang memasuki sayembara namun tidak dapat mengalahkan Jambumangli. Akhirnya hanya Begawan Wisrawalah yang dapat menjelaskan arti "sastrajendra hayuningrat pangruwating diyu" bersamaan membinasakan hingga hancur berkeping-keping tubuh Jambumangli. Roh Jambumangli mengeluarkan kutukan, bahwa kelak anak Begawan Wisrawa akan mati dengan cara anggota tubuhnya terpisah-pisah. Hal tersebut benar-benar terjadi pada Kumbakarna putra Begawan Wisrawa dengan Dewi Sukesi.

Lain pula dengan Jambumangli yang hidup pada zaman kekuasaan Prabu Dasamuka. Jambumangli ini adalah anak keturunan Jambumangli yang binasa terpatah-patah oleh Resi Wisrawa tersebut di atas. Ia senapati sakti negara Alengka, ia dapat mengamuk dalam perang melawan bala tentara wanara Pancawati, hingga banyak yang gugur. Ia tidak hancur oleh pukulan Anoman dengan pepohonan. Namun baru binasa remuk oleh karena ditimpa batu gunung oleh Anoman.

Wayang Jambumangli berhidung haluan perahu, bermata plelengan, bermulut menganga nampak gigi-gigi dan taringnya, berjamang dua susun, bersanggul keling, bersumping kembang keluwih, muka agak dongak tersungging warna merah, berkalung ulur-ulur, tangan terlepas dapat digerakkan kedua-duanya. Berkain katongan raksasa. Kalau wayang yang demikian tidak disediakan tentunya dapat digantikan dengan wayang lain. Di sini ditunjukkan dua wayang Jambumangli, yang satu mungkin dapat ditunjukkan sebagai Jambumangli yang hidup pada zaman raja Alengka Prabu Sumaliraja yaitu yang bergelung keling dengan garudan kecil, muka disungging warna merah, sedangkan yang lain Jambumangli yang hidup pada zaman raja Alengka Prabu Dasamuka, bergelung keling tanpa garudan, muka dongak warna merah.


4. PATIH PRAHASTA.
 
 Gambar-415: PATIH PRAHASTA

Prahasta adalah putra kedua Prabu Sumaliraja. Ia adik Dewi Sukesi. Ada seorang Dalang yang menceritakan bahwa Prahasta sebenarnya bukan seorang raksasa. Ia berwajah tampan. Tetapi karena pada waktu Begawan Wisrawa mengajarkan aji "sastrajendra hayuningrat pangruwating diyu" kepada Dewi Sukesi, ia mendengarkan secara tidak jujur yaitu dengan cara mengintip. Karena ilmu/aji "sastrajendra" ini memang ampuh pengaruhnya terhadap makhluk hidup, maka Prahasta kena tulah dan kualat tubuhnya membengkak menjadi seorang raksasa. Dalam pergelaran-pergelaran yang pernah ada terlihat seorang Dalang yang sudah cukup terkenal agak sering menunjukkan Prahasta seperti wayang yang ditunjukkan di sini. Tepat tidaknya wayang Prahasta yang ditunjukkan dalam buku ini dikembalikan kepada para pakar dan penggemar wayang tentunya, karena setiap orang dapat bebas memberikan penafsiran sendiri, khususnya Ki Dalang. Bahkan bila wayang yang demikian tidak ada dapat digantikan dengan wayang Buta Patih. Setelah Prabu Sumaliraja turun takhta, cucunya Prabu Dasamuka menggantikannya. Sedangkan Prahasta diangkat menjadi patihnya. Walaupun berujud raksasa Prahasta berhati baik. Pada waktu terjadi perang besar Alengka melawan bala tentara wanara, Prahasta maju ke medan perang bukan karena membela nafsu angkara murka putra kemenakannya Rahwana, tetapi semata-mata hanya membela tanah tumpah darahnya sama halnya dengan Kumbakarna.  Maka pada waktu berangkat memimpin perang banyak diantar oleh para warga Alengka. Prahasta pun meneteskan air matanya karena terharu dan sudah tahu bahwa dirinya ada di pihak yang salah dan bakal kalah dalam peperangan ini karena yang dihadapi adalah Prabu Rama yang titisan Batara Wisnu Dewa yang  wenang membagi kebahagiaan. Di medan laga Prahasta berhadapan dengan Anila, wanara pendek berbulu biru anak Batara Narada. Keduanya sama-sama sakti. Akhirnya Prahasta gugur dihatam kepalanya dengan tugu hitam oleh Anila. Tugu hitam  berubah rupa menjadi Bidadari cantik yang bernama Dewi Windradi yang merupakan ibu dari Dewi Anjani, Subali dan Sugriwa. Karena kutukan Resi Gotama di pertapaan Grastina di bukit Sukendra Dewi Windradi yang bermain cinta dengan Batara Surya itu berubah menjadi tugu hitam tersebut. Setelah pulih kembali menjadi Bidadari kembali ke Kahyangan berkumpul kembali dengan para Bidadari lainnya.  Banyak buku-buku wayang yang memberikan ilustrasi Patih Prahasta dengan wayang raksasa bertopong dan berpraba, tidak seperti ini.

Wayang Prahasta di sini, berhidung haluan perahu, bermulut menganga tampak gigi-gigi dan taringnya, bermata plelengan, bermuka tunduk disungging warna merah, berjamang dua susun, memakai topong, bergaruda membelakang, berambut ngore/nggendong (bahasa Jawa) terurai sampai punggung. Tangan belakang terlepas dapat digerakkan, berkain katongan raksasa. Ada kemungkinan wayang ini dapat diberikan nama lain, umpamanya: Patih Pancatnyana, Patih Sekipu atau patih-patih seberang lainnya, semuanya tergantung pada Ki Dalang yang pasti.

  
5. MINTRAGNA.
 
Gambar-416: MINTRAGNA

Bupati Patih Mintragna adalah raksasa gegedug anung-anung (bahasa Jawa) atau andalan negara Alengka dari pemerintahan Prabu Sumaliraja hingga Prabu Dasamuka. Mulai zaman penyerangan bala tentara Prabu Danaraja dari negara Lokapala ke Alengka, karena merasa dikhianati oleh ayahnya Begawan Wisrawa dan penyerangan Lokapala oleh Prabu Rahwana adik Prabu Danaraja tunggal ayah lain ibu dari Alengka. Demikian juga ketika Kahyangan Suralaya dan negara Maespati diserang bala tentara Alengka patih Mintragna merupakan raksasa senapati andalan dari Alengka.
Mintragna ini seangkatan dengan Ditya Jambumangli yang pada zaman pemerintahan Prabu Sumaliraja mengadakan sayembara siapa yang ingin mempersunting Dewi Sukesi putri Prabu Sumaliraja harus terlebih dulu dapat menyempal bahu kiri kanannya, di samping dapat menjelaskan “sastra jendra” . Oleh karena itu raksasa ini sangat berpengalaman dalam peperangan terdahulu.  Pada waktu bala tentara wanara menyerang pusat negara Alengka, Jambumangli yang merupakan anak keturunan Jambumangli yang tewas melawan Begawan Wisrawa dulu, karena amukan Anoman tewas juga dipukul dengan bukit batu. Menyaksikan tewasnya Jambumangli, maka Mintragna menjadi geram, diputarnya senjata limpung, mengamuk sejadi-jadinya. Korban berjatuhan di kalangan prajurit wanara. Raksasa yang bertubuh tinggi besar ini menggelundung sambil menggeram, kemudian meloncat sambil memukul musuh dengan senjata limpung.
Melihat kejadian ini Gunawan Wibisana dengan menyembah terlebih dulu kepada Prabu Rama, tanpa diminta segera masuk di tengah-tengah pertempuran. Setelah Gunawan Wibisana berhadapan dengan Mintragna para prajurit tentara menjauh. Melihat yang datang adalah Gunawan Wibisana maka Mintragna berteriak: “Hee Gunawan Wibisana, aku memang ingin sekali memotong lehermu, satria hina yang telah lari ke musuh. Sayang satria bagus adik raja membalik kepada musuh, lebih senang bercampur dengan monyet-monyet daripada harus membela raja sendiri”. Maka Wibisana pun menjawab: “engkau memang benar Mintragna. Aku berpendirian bahwa bergaul rapat dengan orang jahat dapat ketularan, walaupun orang jahat itu saudara tua sendiri. Aku ingin mati di pihak yang benar, bukan sebaliknya.
Mendengar jawaban gunawan Wibisana Mintragna tidak  sabar lagi. Dipukulnya Wibisana dengan limpung. Namun Wibisana tidak menghindar. Berkali-kali tubuhnya dilimpung oleh Mintragna, tetapi tidak luka sedikit pun. Akhirnya dengan tersenyum Gunawan Wibisana memutar senjata gada, dan digadanya tubuh Mintragna. Mintragna tewas, tubuhnya hancur lebur.
Wayang Mintragna ini merupakan tafsiran belaka, dengan tujuan memperkaya jumlah wayang khususnya kelompok Raksasa Alengka ini, karena tidak aneh lagi bila masing-masing Dalang dapat menunjukkan raksasa Mintragna ini dengan tafsiran/kreasinya masing-masing yang mungkin tidak sama dengan wayang yang ditunjukkan di sini.


 6. PRAGONGSA.
 Gambar-417: PRAGONGSA
            Sama dengan Mintragna, Pragongsa adalah raksasa yang merupakan senapati yang sangat sakti menjadi andalan bala tentara Alengka dan memiliki pengalaman perang yang sangat banyak. Dimulai dari perang melawan serangan tentara Lokapala ke Alengka, perang menyerang balik ke Lokapala, perang Ayodya dan perang menyerang Kahyangan Suralaya, maupun perang Maespati.
            Pada waktu bala tentara wanara Prabu Rama menyerang Alengka untuk meminta kembalinya Dewi Sinta yang diculik oleh Rahwana, Pragongsa menghadapi serangan tersebut. Karena Pragongsa merupakan senapati andalan Alengka, maka ia tidak sembarang memilih tandingan. Apalagi Pragongsa adalah raksasa yang mahir terbang, maka amukannya pun dahsat sekali. Ia tidak mau bertempur melawan prajurit wanara biasa. Ia memilih lawannya di pihak wanara-wanara yang sakti.
            Sugriwa melihat gelagat ini. Setelah melakukan sembah kepada Prabu Rama, ia segera melesat ke angkasa. Melihat tampilnya Sugriwa di angkasa, Pragongsa gembira sekali karena mendapatkan lawan yang sederajat. Ia terbang mendekati Sugriwa. Katanya: “Ee Sugriwa, aku mendapatkan kehormatan dapat berperang melawanmu. Ayo kita berperang di angkasa”. Sugriwa seorang raja wanara yang biasa berpikir cepat dan tidak mau berbicara banyak, waktunya dipergunakan untuk memimpin pertempuran. Belum selesai Pragongsa dengan tutur katanya ia sudah diterjang dadanya oleh Sugriwa. Dada Pragongsa pecah. Darah mengalir dengan derasnya. Pragongsa tewas. Tubuhnya yang besar tinggi itu jatuh dari angkasa, tiba di tanah dengan menimbulkan suara gumebruk menggetarkan bumi. Maka para prajurit wanara bersorak sorai sambil menari-nari. Demikian cerita singkat raksasa Pragongsa.
            Sama halnya dengan raksasa Alengka lainnya, Pragongsa ini dapat ditunjukkan dengan wayang raksasa apapun, malahan tidak menutup kemungkinan bila tidak dibuat secara khusus, sering digantikan dengan denawa prepatan. Apa yang ditunjukkan disini hanyalah merupakan usaha untuk memperkaya seni kriya wayang kulit khususnya gaya Surakarta ini.


 7. BAJRAMUSTI
 
Gambar-418: BAJRAMUSTI
            Bajramusti bukan Brajamusti (raksasa Pringgondani) termasuk juga bupati Alengka yang menjadi senapati andalan dalam setiap peperangan, mulai Alengka di bawah kekuasaan Prabu Sumaliraja hingga Prabu Dasamuka. Ia berpengalaman di medan perang Lokapala, Ayodya, Kaendran dan Maespati. Pada waktu bala tentara wanara Prabu Rama menyerang Alengka untuk meminta kembalinya Dewi Sinta yang diculik oleh Rahwana, telah banyak bala tentara raksasa Alengka yang tewas, termasuk Jambumangli telah tewas oleh Anoman, Mintragna telah tewas oleh Gunawan Wibisana, Pragongsa telah tewas oleh Sugriwa. Prajurit Alengka terdesak oleh serbuan prajurit-prajurit wanara yang semangatnya menjadi berkobar-kobar. Korban banyak jatuh di kalangan raksasa Alengka.
            Menyaksikan perkembangan pertempuran ini Bajramusti marah sekali. Ia mengamuk sejadi-jadinya dengan memutar senjata limpung. Ia menggeram keras sekali memekakkan telinga. Banyak tentara wanara-wanara sakti yang menjadi korbannya. Oleh karena itu bupati wanara yang bernama Arimenda atau Kapi Menda cepat-cepat mendekati raksasa Bajramusti. Melihat wanara berkepala kambing ini, Bajramusti tertawa dan menganggap bukan tandingannya, karena Bajramusti merupakan senapati tua dari Alengka yang sudah cukup berpengakaman dalam peperangan hanya berhadapan dengan seekor kera tua berkepala kambing. Demikian juga Arimenda ini juga merasa prajurit wanara yang sudah banyak berpengalaman dalam peperangan dan masih pengasuh Narpati Sugriwa pada waktu masih muda.
            Tanpa banyak berbicara Kapi Menda menerjang Bajramusti. Pertempuran terjadi seru sekali. Mereka saling terjang, saling pukul, saling tarik dan saling dorong. Mereka saling banting dan saling jambak atau tarik rambut, sehingga debu mengepul di udara. Prajurit-prajurit kera banyak menjauh, mereka mengagumi kedua senapati sakti ini bertempur. Yang satu berujud kera sedangkan yang lain berujud raksasa. Akhirnya Bajramusti lengah dapat diterjang punggungnya dan jatuh tertelungkup, diinjak punggungnya dan dengan cepat dipuntirnya lehernya oleh Arimenda hingga putus. Bajramusti tewas di medan perang.
Sama halnya dengan raksasa Alengka lainnya, Bajramusti ini dapat ditunjukkan dengan wayang raksasa apapun, malahan tidak menutup kemungkinan bila tidak dibuat secara khusus, sering digantikan dengan denawa prepatan. Demikian pula sebaliknya jika wayang Patih Prahasta tidak disediakan, wayang ini bisa juga digunakan sebagai Patih Prahasta. Apa yang ditunjukkan disini hanyalah merupakan usaha untuk memperkaya seni kriya wayang kulit khususnya gaya Surakarta ini.

 
12. KALA MARICA.
 
 Gambar-419: KALA MARICA

 Kala Marica adalah raksasa kepercayaan Prabu Dasamuka di Alengka pada waktu Prabu Dasamuka mengetahui bahwa Dewi Widowati sudah menjelma menjadi Dewi Sinta istri Sri Rama Regawa yang pada waktu itu sedang berada dalam pembuangan di hutan Dandaka, Kala Marica diberi tugas untuk memisahkan Dewi Sinta dari Sri Rama. Kala Marica menjelma menjadi kijang emas/kencana yang menarik perhatian Dewi Sinta. Karena kecerdikan Kala Manca inilah, Dewi Sinta dapat diculik Prabu Dasamuka dibawa ke negara Alengka, maka terjadi perang besar sehingga Prabu Dasamuka gugur. Dalam zaman Prabu Arjuna Sasrabahu, Kalamarica dengan segala kecerdikannya dapat menipu permaisuri Dewi Citrawati dan delapan ratus Putri Domas, sehingga mereka bunuh diri. Kala Marica mati setelah tertangkap oleh Kapi Pramujabahu, dijatuhi hukuman siksaan sampai mati sesuai dengan perbuatannya. Demikian menurut Ensiklopedi.

Wayang Kala Marica menyerupai wayang Buta Cakil, di sini ditunjukkan Cakil bertopong, berambut terurai sampai di punggung. Pernah terlihat bentuk wayang Kala Marica digantikan dengan Buta Cakil, karena memang wayang Kala Marica yang sebenarnya tidak tersedia. Karena Kala Marica adalah abdi dekat dengan raja yaitu Prabu Dasamuka, maka di sini ditafsirkan Cakil bertopong, benar atau salahnya setiap Dalang bebas memberikan tafsiran sendiri.


 13. ANGGRISANA.

 Gambar-420: ANGGRISANA

Gambar-421: ANGGRISANA (VERSI LAIN)

Anggrisana atau Anggisrana atau Janggisrana adalah punggawa/abdi (bahasa Jawa) negara Alengka yang terkenal dengan sebutan Maling Julik artinya pencuri yang sangat cerdik. Dalam lakon "Rama Tambak", Anggrisana dipanggil Prabu Dasamuka untuk diberikan tugas menyamar dalam barisan wanara/kera di Swelagiri. Dalam tugas tersebut Anggrisana harus dapat merusak pembuatan tanggul/jembatan untuk penyeberangan para wanara/kera. Karena wujud dari Anggrisana sangat susah dibedakan jika bercampur dengan para kera, maka Senapati Swelagiri susah mengerti siapa yang merusak tambak/tanggul yang setiap harinya tidak bertambah. Berkat kecermatan Raden Gunawan Wibisana yang telah mengenal betul Anggrisana ini di negara Alengka, maka ditangkaplah ia. Namun Narpati Sugriwa tidak percaya bahwa ia adalah mata-mata musuh dari Alengka, karena Narpati Sugriwa mungkin tidak menggunakan ilmu inteljen kalau bahasa sekarang, maka ia dianggapnya anggota bala tentara Wanara. Untuk itu diadakan pemeriksaan antara lain: disuruh memanjat, diperiksa ekornya, disuruh mere (bahasa Jawa). Ia tidak dapat memanjat dengan alasan tangannya sakit. Ia tidak memiliki ekor karena telah dipotong pada waktu masih kecil. Ia tidak dapat mere, tetapi dapat mendengkur sebagaimana seorang raksasa. Dari sinilah terbukti bahwa ia benar-benar mata-mata musuh. Oleh Anoman dan persetujuan Narpati Sugriwa, Anggrisana dihadapkan kepada Sri Rama Wijaya untuk diadili sebagaimana layaknya seorang mata-mata. Oleh Sri Rama, Anoman diperintahkan agar memberikan makanan yang enak, perhiasan secukupnya agar dilepas ikatan tangannya. Para Wanara menjadi heran atas anugerah yang diberikan kepada Anggrisana, padahal ia jelas jelas mata-mata dari Alengka. Sri Rama menjelaskan kepada semua bala tentara Pancawati bahwa Anggrisana ini pantas ditauladani untuk para bala tentara. Karena ia berani mempertaruhkan nyawanya masuk dalam barisan musuh demi kesetiaannya kepada rajanya. Anggrisana dilepas setelah menerima beberapa hadiah, kembali ke Alengka menghadap Prabu Dasamuka. Karena Anggrisana memuji-muji kebaikan Sri Rama, Prabu Dasamuka naik darah, dan ditebaslah lehernya hingga putus dan meninggal seketika. Demikian cerita tentang Anggrisana dalam Ramayana.

Dalam zaman Prabu Arjuna Sasrabahu, Anggrisana telah berbuat yang sama, menyamar sebagai prajurit Maespati. Ia masuk ke pesanggrahan para putri domas dan Dewi Citrawati. Ia melaporkan bahwa Prabu Arjuna Sasrabahu telah gugur di medan perang melawan Prabu Dasamuka untuk membela kematian Patih Suwanda. Mendengar laporan ini Dewi Citrawati belapati suduk salira dan diikuti oleh semua putri Domas. Namun berkat bantuan Batara Baruna dengan membawa "tirta mulya", atau "tirta maya mahosadi" semua yang meninggal dapat hidup kembali, kecuali Patih Suwanda yang memang sudah takdirnya. Dalam zaman Sugriwa Subali, Anggrisanalah yang mempengaruhi Prabu Dasamuka supaya Resi Subali dapat terbunuh. Karena selama Resi Subali masih hidup, Prabu Dasamuka masih ada ganjalan dengan Resi Subali, karena beliaulah ia memperoleh aji Pancasona. Anggrisana menyamar sebagai inang pengasuh Dewi Tara, melapor kepada Resi Subali bahwa sekarang ini Dewi Tara sering disiksa oleh Sugriwa. Dewi Tara masih cinta dengan Resi Subali maka ia datang kepada Resi Subali. Dari sinilah sumber pertengkaran Subali dan Sugriwa hingga akhirnya Subali gugur.


14. DITYA YUYURUMPUNG.

  Gambar-422: DITYA YUYURUMPUNG
 
Gambar-423: DITYA YUYURUMPUNG (VERSI LAIN)

Ditya Yuyurumpung adalah raksasa Alengka yang bertugas di Samudra. Ia muncul dalam lakon "Rama Tambak". Pada waktu para bala tentara wanara sedang membuat tambak/tanggul untuk jembatan menuju negara Alengka, Ditya Yuyurumpung mengganggu pembuatan tanggul tersebut. Berkali-kali Wadya Wanara membangun dan memperbaikinya tanggul tersebut roboh hancur dan tenggelam. Anoman mengadakan pengamatan dari angkasa dengan terbang setinggi-tingginya, segala perbuatan Ditya Yuyurumpung tersebut dapat diamatinya. Maka oleh Anoman di tempat persembunyiannya dalam laut dipancing dengan ekornya. Karena Ditya Yuyurumpung digambarkan rakasasa berkepala kepiting dan memiliki supit. Dijepitlah ekor Anoman oleh Ditya Yuyurumpung semakin lama semakin kencang, oleh Anoman disentaklah ke darat hingga Ditya Yuyurumpung tersungkur, ditangkap dan dibinasakan hingga hancur berkeping-keping. Demikian cerita Ditya Yuyurumpung yang terdengar dalam salah satu kaset rekaman wayang yang dibawakan oleh seorang Dalang yang cukup terkenal, mungkin masih banyak para Dalang yang memiliki sanggit lain lagi.

Wayang ini dibuat dalam bentuk raksasa yang berhidung pesek, mulut menganga nampak gigi-gigi dan taringnya, bermata kelipan nampak kedua matanya, rambut terurai, bersupit kepiting besar dua buah, berkain cawatan, bersenjata bedama terselip di perutnya. Demikian salah satu tafsiran wujud wayang Ditya Yuyurumpung, tentunya setiap Dalang, pencipta dan penggemar wayang dapat menafsirkan lain lagi.


16. DITYA WILKATAKSINI.
 
 Gambar-424: DITYA WILKATAKSINI

 Wayang ini disebut juga Garulangit. Raksasa ini mendapatkan tugas untuk menjaga memantau musuh yang hendak memasuki negara Alengka dan hidup di laut. Tiap hari mengaduk-aduk air laut sambil memungut dan memakan ikan dengan tangannya yang sangat panjang. Pada waktu Anoman menjadi Duta Sri Rama Wijaya untuk memasuki negara Alengka, Ditya Wilkataksini dapat menyambar atau menyedotnya dan menelannya. Anoman masuk dalam mulutnya yang lebar seperti gua itu, namun terhenti di tenggorokannya. Keluar tidak dapat, masukpun tidak dapat. Akibatnya Wilkataksini matanya berkunang-kunang mengeluarkan air mata, tidak dapat bernafas. Karena Anoman tidak tahan lagi bau busuk mulutnya maka dirobeklah tenggorokan raksasa ini dengan kuku pancanakannya dari atas ke bawah robekan terbuka dan darah mengucur dengan deras. Anoman meloncat ke luar sambil menerjang dinding leher. Akibat robekan tersebut Wilkataksini tewas.

Ada yang menceritakan bahwa Ditya Wilkataksini masih bersaudara dengan Ditya Tatekini. Keduanya hidup di laut, mempunyai kesaktian dapat mendeteksi musuh yang akan masuk wilayah perairan negara Alengka, oleh karena itu oleh Prabu Dasamuka keduanya diberikan tugas mengamankan lautan.

Dalam lakon ”Anoman Duta” kedua raksasa ini nampaknya tidak pernah ditampilkan kedua-duanya, mungkin karena alasan pertama wayangnya memang tidak ada, kedua waktunya tidak cukup karena habis di Limbukan atau goro-goro, sehingga jalannya pergelaran sangat tergesa-gesa, ini adalah salah satu pendapat, siapapun boleh tidak sama.    

Wujud Ditya Wilkataksini berupa seorang raksasa yang berkepala semacam buaya, mulut menganga lebar panjang, lidah menjulur, nampak gigi-gigi dan taringnya. Bermata kelipan tampak kedua-duanya, bersumping dan berkalung ikan. Tangan belakang irasan memegang ikan, tangan depan panjang terlepas dapat digerakkan, bersenjata golok terselip di pinggangnya, berkain terbalut semacam sarung.

   
17. DITYA WIRAKAMPANA.
 
 Gambar-425: DITYA WIRAKAMPANA
 
            Ditya Wirakampana adalah raksasa kusir kereta Raden Gunawan Wibisana di kesatrian Nguntara. Sudah tidak aneh lagi bahwa wadyabala negeri Alengka terkenal berujud manusia dan raksasa, demikian juga di kesatrian Nguntara. Pada waktu Raden Gunawan Wibisana bergabung dengan Prabu Rama Wijaya di Pancawati naik kereta Jatisura menyeberang dari Alengka ke negara Pancawati, Ditya Wirakampanalah yang menjadi kusir/saisnya. Namun kedatangannya di Pancawati sebagai sais disambut dengan kekerasan oleh balatentara wanara Pancawati. Karena setiap raksasa yang masuk Pancawati harus disirnakan, apalagi raksasa dari Alengka. Demikian juga nasib Ditya Wirakampana, setibanya di Pancawati mengusiri kereta Raden Gunawan Wibisana yang bermaksud baik menggabungkan diri dengan Prabu Rama Wijaya, telah menjadi korban terbunuh oleh Raden Anggada dengan ditimbun gunungan tanpa dosa dan kesalahan apapun. Padahal sewaktu Anoman sebagai duta di Alengka dulu melalui Ki Lurah Tejamantri/Togog telah berpesan bahwa dirinya ingin bergabung dengan Prabu Rama Wijaya di Pancawati dan tidak setuju dengan keangkaramurkaan kakaknya Rahwana.  Oleh karena itu Anoman memohon maaf kepada Raden Gunawan Wibisana atas kematian Ditya Wirakampana ini. Oleh karena itu Raden Gunawan Wibisana menjawab bahwa kematian Ditya Wirakampana mungkin sudah kehendak Dewa.

            Wayang Ditya Wirakampana berujud raksasa berhidung haluan perahu, bermulut menganga nampak gigi-giginya, mata plelengan, berjamang dua susun, bergaruda kecil, rambut bulat, bersumping kembang keluwih, berkalung ulur-ulur, tangan belakang lepas, berkain katongan prajurit. Muka disungging warna merah muda, badan disungging warna prada. Namun pernah terlihat dalam pergelaran dengan lakon ”Rama Tambak” wayang Ditya Wirakampana ditunjukkan wayang buta Rambut Geni, oleh karena itu tepat atau tidaknya wayang Ditya Wirakampana seperti ini terbalik kepada para Dalang dan masyarakat pewayangan tentunya. Wayang Ditya Wirakampana yang ditunjukkan di sini adalah penafsiran seorang penggemar dan pembuat wayang, yang merupakan kesan pribadi.


18. DITYA KARADUSANA.

 Gambar-426: DITYA KARADUSANA
 
Gambar-427: DENAWA ALENGKA LAINNYA
 
 Gambar-428: DENAWA ALENGKA LAINNYA

Ditya Karadusana adalah suami muda Dewi Sarpakenaka adik Prabu Dasamuka raja Alengka. Suami Dewi Sarpakenaka selain Ditya Karadusana adalah Ditya Kala Nopati. Karena Sarpakenaka adalah adik dari raja agung binatara (bahasa Jawa), kaya raya dan ditakuti orang-orang dalam dan luar negeri, maka tidak aneh jika suaminya pun lebih dari satu. Belum kekasih-kekasih yang tidak resmi lainnya. Dewi Sarpakenaka sangat dimanja oleh Prabu Dasamuka, oleh karena itu segala perilakunya tidak ada yang berani mengganggu dan memperingatkannya.

Karena Dewi Sarpakenaka jatuh hati pada Raden Lesmana di hutan Dandaka, sedangkan Raden Lesmana tidak melayaninya dan dipotonglah hidungnya hingga menjerit-jerit mengadu pada suaminya Ditya Karadusana. Ditya Karadusana tanpa berpikir benar salahnya laporan istrinya tersebut membelanya melawan Raden Lesmana hingga tewas terbunuh.

Wayang Ditya Karadusana berwujud raksasa gemuk pendek, berhidung haluan kapal, bermulut menganga nampak gigi-gigi dan taringnya kedua matanya nampak bentuk kelipan, rambut lurus besar-besar warna kemarah-merahan, berkalung, bersenjata golok terselip diperutnya, berkain terbalut sarung. Demi kian salah satu penafsiran tentang wujud wayang Ditya Karadusana, adapun wayang ini akan diberikan nama apa pun tentunya tergantung pada Ki Dalang. Atau sebaliknya, Ditya Karadusana dapat juga ditunjukkan wayang yang lainnya umpamanya: salah satu dari denawa prepatan.


XIV. WAYANG GOLONGAN RICIKAN.

   Gambar-490: GAJAH  LIAR
Gambar-491: GAJAH KENDARAAN
Gambar-492: BANTENG
Gambar-493: BANTENG
Gambar-494: CELENG
Gambar-495: HARIMAU
Gambar-496: KUDA KENDARAAN
Gambar-497: KUDA KENDARAAN
Gambar-498: GARUDA
Gambar-499: GARUDA
Gambar-500: NAGA DAN NAGA RAJA
Gambar-501: JATASURA

Gambar-502: BARISAN
Gambar-503: BARISAN
Gambar-504: KERETA KENDARAAN
Gambar-505: KERETA KENDARAAN

Gambar-506: BRAYUT

Gambar-507: RUSA
Wayang golongan ricikan ini ada yang menyebutkan termasuk di dalamnya Gunungan (Kayon). Tetapi di dalam buku ini Gunungan sengaja dimasukkan dalam kelompok wayang simpingan. Gunungan Gapuran masuk simpingan kanan, Gunungan Blombangan masuh kelompok simpingan kiri.

Adapun wayang golongan ricikan yang dapat dikumpulkan dalam buku ini antara lain:
  1. Prampogan/Barisan prajurit ada 2 buah.
  2. Kareta kendaraan raja ada 2 buah.
  3. Kuda kendaraan ada 2 buah.
  4. Gajah kendaraan ada 1 buah.
  5. Gajah hutan/liar ada 1 buah.
  6. Naga raja ada 1 buah.
  7. Naga tanpa jamang dan mahkota ada 1 buah.
  8. Jatasura (Banteng berkepala raksasa) 1 buah.
  9. Banteng ada 2 buah.
10. Harimau ada 1 buah
11. Garuda ada 2 buah.
12. Gelas ada 1 buah.
13. Surat Kalimasada ada 1 buah.
14. Cupu manik ada 1 buah.
15. Kembang ada 2 buah.
16. Brayut ada 2 buah.
17. Rusa ada 1 buah

Demikian wayang golongan ricikan yang dapat dibuat dan dikumpulkan dalam buku ini. Tentunya masih banyak lagi kekurangan dari wayang golongan ricikan ini. Biasanya seorang Dalang memiliki wayang-wayang jenis hewan dengan berbagai macam kreasinya, khususnya untuk menunjang ramainya pakeliran. Hewan-hewan tersebut dikeluarkan saat bodolan/keluarnya bala tentara raksasa, sehingga hewan-hewan tersebut dikendarai para bala tentara raksasa. Disebutkan oleh Ki Dalang nama dari beberapa binatang kendaraan para raksasa yaitu bilal, adal-adal, senuk, memreng, warak, singa barong dsb.


XV. WAYANG GOLONGAN SENJATA.

Gambar-508: CAKRABASKARA, GUWAWIJAYA, SARUTAMA, NAGAPASA,   KUNTAWIJAYADANU, PANAH BERANTAI, PASOPATI
Gambar-509: KERIS, PANAH, CADI, TRISULA, NENGGALA

Gambar-510: KEPALA JAYADRATA, CANDRASA, SURAT, BUNGA, LIMPUNG DAN ALUGARA

Gambar-511: GADA, GADA BESAR, KENDAGA, BEDAMA, GADA RUJAKPOLO, GADA WESIKUNING, GELAS, PAYUNG, SABIT, PEDANG DAN  PETEL


Gambar-512: WADUNG/KAMPAK
Di bawah ini disebutkan nama-nama, bentuk serta pemegang/pemilik senjata tersebut. Adapun rinciannya sebagai berikut:
 1. Cakrabaskara                   : Prabu Kresna
 2. Guwawijaya                       : Prabu Rama Wijaya
 3. Nenggala                            : Prabu Baladewa
 4. Alugara                               : Prabu Baladewa
 5. Sarutama                            : Arjuna
 6. Pasopati                             : Arjuna
 7. Nagapasa                           : Indrajit
 8. Panah Berantai                 : Indrajit
 9. Kunta Wijayadanu            : Adipati Karna
10. Rujakpolo (gada)             Werkodara
11. Wesikuning (gada)          : Setyaki
12. Wadung/kampak besar  : Rama Bargawa/Parasu

Adapun senjata lain bersifat umum, artinya dalam cerita keampuhannya tidak sama dengan senjata-senjata yang disebutkan di atas. Demikian juga pemiliknya tidak sekhusus tokoh-tokoh tersebut di atas. Senjata tersebut antara lain:
 1. Candi                                                          7. Curiga/keris biasa
 2. Limpung                                                    8. Patrem/keris kecil
 3. Bedama                                                     9. Bindi
 4. Samoga/Trisula                                     10. Anak panah
 5. Piling                                                        11. Sabit
 6. Curigaluk (Cakil)                                   12. Petel/Kapak

Demikian wayang golongan senjata yang dapat dikumpulkan dalam buku ini. Tentunya ada salah satu senjata yang dapat diberi nama tersendiri sesuai kebutuhan dalam lakon yang akan dikelirkan. Sebagai contoh: "Kyai Cundamanik" dapat digunakan salah satu dari senjata keris, “Pasopati” dapat digunakan salah satu dari senjata panah, demikain juga yang lainnya. Tetapi di sini ditunjukkan panah yang ujungnya mirip bulan sabit.

Demikian beberapa wayang dalam kelompok dudahan yang merupakan akhir dari pembahasan "Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta" ini, walaupun belum sepenuhnya lengkap, mudah-mudahan dapat bermanfaat, khususnya bagi para pencinta/penggemar wayang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar